i’m a bluesman

Posted on Updated on


blues adalah soal perasaan. itu menurut saya. senandung dan nyanyian mestinya bukanlah tanpa sebab, dia ada karena satu dan lain hal yang mendasarinya. paling enak menyanyikan kesedihan, semacam berkeluhkesah tetapi disenandungkan, dia akan mengiba iba, menaik dan turun sesuai perasaan hati.

saya tahu, ada aturan tertentu di dalam blues, aturan yang mengatur soal akord, birama, sukat serta dinamika agar kesatuan nada yang dibunyikan bisa harmonis dan membentuk sebuah harmoni yang bernama blues itu sendiri. lalu muncullah analisa analisa, jika yang suka bergaya sekian bar adalah si anu, yang suka menggunakan setelan sound yang demikian adalah si itu, dan sebagainya dan sebagainya. tapi apakah si anu dan si itu sudah sedemikian detil mengkonsep segala sesuatu mengenai permainannya sejak awal? saya pikir tidak begitu, itu adalah pekerjaan para musikolog dan Muddy Waters pun nampaknya akan enggan menjawab jika kita tanyakan kepadanya kenapa model kalimat tanya dan jawab pada lagu champagne and reefer sangat tidak konvensional untuk jenis musik blues?

blues itu merdeka.

secara umum, segala jenis musik memang punya aturan aturan yang bersifat matematis, tentunya bukan tanpa maksud semuanya, diharap kesatuan bunyi yang dihasilkan akan lebih indah menurut konvensi harmoni jika aturan matematis tersebut diikuti. meski begitu, musik bukanlah matematika.

kembali ke soal perasaan, menurut saya hal terpenting dalam musik blues adalah soal rasa itu sendiri. dan itu erat kaitannya dengan pengalaman serta peng alam an pelaku musik itu sendiri. itulah intinya menurut saya, bukan apa jenis efek yang digunakan oleh Stevie Ray Vaughan di lagu Texas Flood, atau kenapa Jimi Hendrik selalu meringis dan memejamkan mata saat dia melakukan bending dan sebagainya. itu tentunya tidak penting untuk kita ketahui kecuali kita akan membuat semacam film dokumenter tentang mereka.

lalu bagaimana kepekaan rasa kita dapat terasah? itu persoalannya, kata seorang teman kita harus mengalami untuk bisa meresapi. saya pikir betul apa yang dia katakan, mungkin kita harus menderita agar bisa meresapi penderitaan untuk kemudian menyanyikannya, tapi itu mungkin loh, karena terlalu ekstrim tentunya kalau sampai kita rela membuang kebahagiaan hanya demi sebuah musik blues. tetapi sebuah pesan yang, meskipun sederhana, itu akan bagus sekali jika ada dalam sebuah lagu, terlebih blues. agar kita tidak terjebak dalam iklim hippie yang sudah bukan jamannya lagi, serta kebiasaan mengada adakan masalah padahal tak bermasalah, bergaya menderita padahal bahagia, pura pura sakit padahal sehat.  semoga bermanfaat.

salam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s