How blue can you get

Posted on Updated on


Seandainya saja takdir tidak pernah digariskan, dan suratan itu tak pernah ada, serta kita diberi kebebasan memilih hidup, maka saya akan memilih jadi, tentu saja orang kaya. Enak jadi orang kaya, bisa semau maunya nggak ada yang protes, soalnya kaya. Kalau saya kaya, saya mau beli Hummer, itu untuk status betapa saya kaya, lalu Wrangler tiga kabin buat mengajak istri saya piknik saat akhir pekan tiba, lalu Mini Chooper dan chevrolet camaro edisi bumblebee buat mainan anak saya biar anak saya nggak kalah sama, itu loh, host acara tivi yang badannya gede tapi kapasitas otaknya sekelas otak bayi. oia satu lagi, agar saya bisa gila gilaan di jalanan saya juga mau beli satu Audi TT cabriolet warna ungu, dan tentunya satu SS Camaro dan Impala untuk menegaskan betapa saya punya selera yang sangat Amerika. Jantan tentunya.

Berhubung saya suka main gitar, tentunya saya juga akan menjadi kolektor gitar dengan merk aneh-aneh, keluaran jaman prasejarah, relic dan kalau bisa bekas artis. Untuk keperluan itu saya akan menyediakan satu rumah khusus buat koleksi gitar-gitar saya yang juga akan saya jadikan museum biar orang terlongong longong sambil berurai liur saat melihat betapa dahsyatnya koleksi saya.

tapi itu seandainya…

Nah…sekali lagi seandainya hidup saya seperti yang saya omongkan di atas, tentunya saya tidak akan pernah menyanyikan blues blues yang kalau dicium, baunya saja sudah seperti gembel, seperti yang sering saya nyanyikan sekarang ini. Betapa tidak, bagaimana saya akan meresapi sesuatu yang disebut sebut sebagai sendu kalau saya senang sentosa dan bahagia tiada tara dengan jaminan harta 12 keturunan pun masih bersisa? Kalau seperti itu mungkin saya akan memainkan musik lain yang lebih mempertegas kelas saya, misalnya seperti musik dengan jibunan tangga nada kromatis yang pemainnya suka sambil merem merem dan mengerutkan dahi seolah pekerjaannya adalah hal tersulit di dunia…lalu anak saya akan saya panggilkan guru piano atau biola biar mereka belajar musik dari jaman lampau yang memiliki attitude sangat sangat eksklusif dan pakemnya haram dilanggar seolah itu adalah agama.

Saya bukannya tidak bersyukur, saya hanya sedang meratap…kata istri saya blues itu adalah menyenandungkan ratapan atau menyanyikan keluhan. Dan memang begitu, coba anda dengar lagu walkin’ blues, woke up this mornin’ i feel round for my shoes, you know bout that babe, i had them old walkin blues…dan sebagainya dan sebagainya. Lalu bagaimana saya mengeluh kalau tidak ada yang saya keluhkan? misalkan hidup saya seperti yang saya katakan di atas? Yang ada hanyalah saya sedang berpura pura. Penyakit orang sehat yang pura pura sakit adalah mereka kemudian mencari cari masalah yang tidak perlu, merasa rasai hidup sebagai sesuatu yang tak berguna, lalu tenggelam dalam apa yang mereka sebut sebagai pencarian jatidiri dan berujung pada keinginan mati muda, mau ikut ikutan seperti seniman 27 club. Itu adalah mimpi klasik anak alay jaman sekarang. Coba dikasih Tuhan mati betulan, pasti mereka merengek kepingin hidup lagi.

Saya tidak sedang membanggakan kemelaratan, sudah saya bilang kalau takdir tidak pernah digariskan, saya tentu saja memilih untuk  jadi semacam orang yang ikut mencatatkan nama di majalah forbes.

Setiap orang sah melakukan apa yang dia mau, tapi saya paling pusing dengan yang pura pura. Pura pura sakit padahal sehat wal afiat, padahal orang sakit pun kalau bisa ingin cepat sehat.

Saya tidak sedang memprotes Tuhan, saya tahu bahwa blues itu sangat religius, buktinya orang orang kulit hitam yang menyanyikan blues itu sering menyebut kata Lord di dalam lagunya, mereka berdoa, mengeluhkan nasib, kecuali orang orang kulit hitam amerika jaman sekarang yang bling bling…mereka atheis dan hiperseks. Mereka juga freemason dan menghamba pada iluminati.

Saya suka menyanyikan keluhan, tapi sejujurnya saya lebih suka berdoa karena menyanyikan keluhan tidak membuat saya dan keluarga saya kenyang. Saya sudah capek menulis, saya tahu tak ada kesimpulan dari apa yang saya omongkan dari awal sampai akhir, tapi saya tidak perduli, saya bukan jurnalis apalagi penyair, saya tidak sedang menulis analisa analisa maupun teori teori, saya hanya sedang ingin menuliskan keluhan dan sedikit muntah muntah…so, i don’t give a shit.

semoga ada gunanya

salam

Iklan

3 thoughts on “How blue can you get

    ramdhan said:
    21 November 2012 pukul 17:05

    like it

      Herry Firmansyah responded:
      2 Desember 2012 pukul 19:04

      terimakasih bro..

      bo aza mojo said:
      19 November 2013 pukul 11:11

      Memang hidup tidak di gariskan seperti apa yg diperkirakan banyak orang mau jadi kaya atau setengah kaya atau kaya banget atau meilih jadi blues tengik tapi sufistik bisa bisa aja dan bebassss . . . . silahkan memilih, hanya saja my friend . . . yg tidak bisa memilih ketika kita digariskan menjadi Laki laki atau perempuan yg lahir dari rahim ibu tertentu dan ayah yg itu . . . . hal hal semacam itulah yg digariskan … selain dari itu adalah pilihan ikhtiar dan doa masing masing . . . .

      lanjut terusssss . . . . dont stop!!!!

      i love blues. . . reggae . . . and woman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s