Bulan: Desember 2012

suka suka saya

Posted on Updated on


saya rasa musik lain dengan agama…kenapa harus merasa berdosa jika kita melanggar ketetapan ketetapan di dalamnya? apakah saya akan masuk neraka jika saya memainkan blues dengan satu kalimat jawab setelah 15 kali kalimat tanya? kalau begitu saya lebih senang menamakan grunge pada apa yang saya mainkan…grunge itu merdeka. jika saya terdengar konyol dan menyedihkan menyanyikan blues dalam bahasa indonesia, maka saya akan belajar bahasa arab, ibrani dan samaria, untuk selanjutnya membuat lagu dengannya…jika untuk membunyikan gitar saya harus punya basis akademis yang mensyaratkan skill bermain bertahap dan terstruktur seperti dalam buku yang berisi susunan notasi yang memusingkan, mungkin saya akan lebih memilih mengendarai rx king dan menjadi pembalap jalanan sesuai cita cita saya semasa SMA…sekali lagi, musik bukan agama, ulama saja menggunakan ijtihad untuk perbedaan pandangan dalam agama yang notabene jauh lebih penting dari sekedar musik dan tetek bengeknya, kenapa saya harus pusing dengan musik yang “hanya” urusan dunia? semoga kumpulan bunyi bunyian itu tidak menggantikan takbir dalam hati saya…

 

#1

semalam saya bertemu arwah Robert Johnson di sebuah angkringan di sekitar terminal giwangan. saya lihat dia sedang sibuk makan tahu isi dan sate telur puyuh, di depannya terhidang segelas teh tawar. saya menghampirinya, asalamualaikum…saya sapa dia, waalaikumsalam jawabnya sambil mempersilahkan saya duduk. setelah berbasa basi sebentar saya bertanya begini kepadanya, mbah, apakah untuk me “rasai” blues saya harus sangat paham teori musik semacam kontrapung, tonalitas, harmoni manual de es be?. mendengar pertanyaan tersebut, dia tertawa sampai terbatuk batuk, hingga beberapa gumpalan tahu yang belum sempat ditelan beterbangan ke udara…setelah tertawanya berhenti dia berkata begini, untuk me “rasai” kita perlu mengalami…tentunya dengan pengalaman yang alami dan tidak dibuat buat, setelah mengalami kita akan belajar memahami…pengalaman kita berbeda, engkau tidak pernah mengalami kejamnya politik apartheid, jadi tak akan mungkin bisa memahami, kecuali dari buku buku, dan pengetahuan tanpa pengalaman itu belumlah sempurna…jadi, nyanyikanlah perasaanmu sendiri, dengan caramu, sesuai pemahamanmu, dengan bahasa yang paling baik menurutmu, maka itu insya Allah akan menjadi biru…lalu, bagaimana dengan teori teori yang saya sebutkan tadi mbah?, gampang, kumpulkan, masukkan dalam kantong plastik lalu bakar…setelah berkata begitu, seluruh tubuhnya diselimuti asap dan hilang…meninggalkan saya yang harus membayar semua makanan yang dia makan…

Iklan

Cerita Tentang Kadal

Posted on Updated on


aku bernyanyi, kamu mencaci

aku bicara, kamu mencela

aku berjalan, matamu tajam mencari kesalahan

aku peduli, kamu menjadi

ku tak peduli, kau usik lagi

kukepalkan tinjuku, kamu lari…ah dasar banci

kukatakan ya hanya pada yang aku suka

kukatakan mau hanya pada yang aku mau

aku tak mau, berkata iya, hanya untuk menyenangkan serikat dan kongsi

bridge:

lidahmu panjang, bercabang cabang

terkadang bergulung meleletkan

liurmu yang kental

Sejarah Musik Blues Bersumber Dari Kreatifitas Seniman Islam – share

Posted on Updated on


Sejarah Musik Blues Bersumber Dari Kreatifitas Seniman Islam

Sumber dari:  http://www.undergroundtauhid.com/sejarah-musik-blues-bersumber-dari-kreatifitas-seniman-islam/

Maturnuwun Mas Pris Ardiraka atas share artikelnya beberapa hari yang lalu 🙂

Underground Tauhid – Blues dikenal sebagai sebuah aliran musik vokal dan instrumental yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Musik yang mulai berkembang pesat pada abad ke-19 M itu muncul dari musik-musik spiritual dan pujian yang biasa dilantunkan komunitas kulit hitam asal Afrika di AS. Musik yang menerapkan blue note dan pola call and respone itu diyakini publik AS dipopulerkan ‘Bapak Blues’ – WC Handy (1873-1958).

Percayakah Anda bahwa musik Blues berakar dari tradisi kaum Muslim? Awalnya, publik di negeri Paman Sam pun tak meyakininya. Namun, seorang penulis dan ilmuwan serta peneliti pada Schomburg Center for Research in Black Culture di New York, Sylviane Diouf, berhasil meyakinkan publik bahwa Blues memiliki relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika Barat.

Untuk membuktikan keterkaitan antara musik Blues Amerika dengan tradisi kaum Muslim, Diouf memutar dua rekaman. Yang pertama diperdengarkannya kepada publik yang hadir di sebuah ruangan Universitas Harvard itu adalah lantunan adzan – panggilan bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat. Setelah itu, Diouf memutar Levee Camp Holler.

Rekaman kedua itu adalah lagu Blues lawas yang pertama kali muncul di Delta Mississippi sekitar 100 tahun yang lalu. Levee Camp Holler bukanlah lagu blues yang terbilang biasa. Lagu itu diciptakan oleh komunita kulit hitam Muslim asal Afrika Barat yang bekerja di Amerika pasca-Perang Sipil.

Lirik lagu Levee Camp Holler yang diperdengarkan Diouf itu terdengar seperti panggilan suara adzan – berisi tentang keagungan Tuhan. Seperti halnya lantunan adzan, lagu Levee Camp Holler itu menekankan kata-kata yang terdengar bergetar. Menurut Diouf, langgam yang sengau antara lagu Blues Levee Camp Holler yang mirip adzan juga merupakan bukti adanya pertautan antara keduanya.

Publik yang hadir di ruangan itu pun takjub dengan kebenaran bukti yang diungkapkan Diouf. “Tepuk tangan pun bergemuruh, sebab hubungan antara musik Blues Amerika dengan tradisi Muslim jelas-jelas terbukti” papar Diouf. “Mereka berkata, ‘Wow, benar-benar terdengar sama. Blues ternyata benar berakar dari sana (tradisi Islam)‘.”

Jonathan Curiel dalam tulisannya bertajuk, Muslim Roots, US Blues, mengungkapkan bahwa publik Amerika perlu berterima kasih kepada umat Islam dari Afrika Barat yang tinggal di Amerika. Sekitar tahun 1600 hingga pertengahan 1800 M, banyak penduduk kulit hitam dari Afrika Barat yang dibawa paksa ke Amerika dan dijadikan budak.

Menurut para sejarawan, sekitar 30 persen budak dari Afrika Barat yang dipekerjakan secara paksa di Amerika itu adalah Muslim. “Meski oleh tuannya dipaksa untuk menganut Kristen, namun banyak budak dari Afrika itu tetap menjalankan agama Islam serta kebudayaan asalnya,” cetus Curiel.

Mereka tetap melantunkan ayat-ayat Alquran setiap hari. Namun, sejarah juga mencatat bahwa para pelaut Muslim dari Afrika Barat adalah yang pertama kali menemukan benua Amerika sebelum Columbus. “Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation.

Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya, They Came before Columbus, membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam African Presence in Early America, Van Sertima menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.

“Columbus juga tahu bahwa Muslim dari pantai barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.

Curiel menambahkan, pengaruh lainnya yang diberikan komunitas kulit hitam yang beragama Muslim di Amerika terhadap musik Blues adalah alat-alat musik yang bisa mereka mainkan. Pada era perbudakan di Amerika, orang kulit putih melarang mereka untuk menabuh drum, karena khawatir akan menumbuhkan semangat perlawanan para budak.

Namun, penggunaan alat musik gesek yang biasa dimainkan umat Islam dari Afrika masih diizinkan untuk dimainkan karena dianggap mirip biola. Guru Besar Ethnomusikologi dari Universitas Mainz, Jerman, bernama Prof Kubik menulis sebuah buku tentang relasi musik Blues dengan peradaban Islam di Afrika Barat berjudul, Africa and the Blues, yang diterbitkan University Press of Mississippi pada 1999. “Saya yakin banyak penyanyi Blues saat ini yang tak menyadari bahwa pola musik mereka meniru tradisi musik kaum Muslim di Arab,” cetusnya.

Secara akademis Prof Kubik telah membuktikannya. “Gaya vokal kebanyakan penyanyi Blues menggunakan melisma, intonasi bergelombang. Gaya vokal seperti itu merupakan peninggalan masyarakat di Afrika Barat yang telah melakukan kontak dengan dunia Islam sejak abad ke-7 dan 8 M,” paparnya. Melisma menggunakan banyak nada dalam satu suku kata.

Sedangkan, intonasi bergelombang merupakan rentetan yang beralih dari mayor ke skala minor dan kembali lagi. Hal itu sangat umum digunakan saat kaum Muslim melantunkan adzan dan membaca Alquran. Dengan fakta itu, papr Prof Kubik, para peneliti musik seharusnya mengakui bahwa Blues berakar dari tradisi Islam yang berkembang di Afrika Barat.

Meski telah dibuktikan secara akademis, namun masih banyak pula yang tak mengakui adanya pengaruh tradisi masyarakat Muslim Afrika dalam musik Blues. “Non-Muslim sangat sulit untuk meyakini fakta itu, karena mereka tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang peradaban Islam dan musik Islami,” ungkap Barry Danielian, seorang pemain teompet yang tampil bersama Paul Simon, Natalie Cole, dan Tower of Power.

Suara lantunan adzan dan ayat-ayat Alquran yang bisa dilantunkan para Muslim kulit hitam di Amerika mengandung musikalitas. “Dalam jamaah saya, kata Danielian yang tinggal di Jersey City, New Jersey, ‘Ketika kami berkumpul dan sang imam datang ada ratusan orang dan kami melantunkan doa, pasti terdengar sangat musikal. Anda akan mendengar musikal itu seperti orang Amerika menyebut Blues.’ ”

Begitulah tradisi Islam di AS telah melahirkan sebuah aliran musik bernama Blues.*/Fiqihislam.com

Red : Tre

sedikit mengenai Jogja Blues Explosion #2, why blues?

Posted on Updated on


531060_455896294456422_1036704340_n

Jogja Blues Explosion #2 selesai sudah. Sebuah acara yang sangat sukses menurut saya, bagaimana membuat blues menjadi sebuah konsumsi yang asik untuk masyarakat penikmat musik jaman sekarang yang sudah tersesat. Kalau dari sisi finansial saya kurang tahu, yang jelas acaranya ramai terlebih di hari ke dua.

Komunitas Jogja Blues Forum didukung Crab adventure dan watulawang resort sebagai penyelenggara acara ini patut dan sangat layak mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang tinggi, sebagai sebuah komunitas, Jogja Blues Forum berhasil menyelenggarakan sebuah pergelaran dua hari yang dahsyat dengan line up artist yang berasal dari dalam dan luar kota. Tidakklah mudah menyelenggarakan acara semacam ini, apalagi genre musik yang diangkat adalah blues, dimana kurang sekali pihak sponsor yang tertarik untuk ikut berpartisipasi karena mereka takut merugi. Meski demikian, acara besar ini pada akhirnya dapat terselenggara dengan predikat sukses. Sekali lagi jika dilihat dari sisi acaranya.

Saya sebagai anggota Komunitas Jogja Blues forum, meskipun saya tidak termasuk panitia dalam acara ini, mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada teman teman panitia yang sangat sangat militan dalam memperjuangkan terselenggaranya acara ini, juga untuk Crab adventure dan Watulawang resort sebagai official partner atau apalah istilahnya, semoga amal baik beliau beliau mendapat ganti yang lebih dahsyat dari Allah Azza wa Jalla.

Sebuah kehormatan yang sangat tinggi bagi saya, didaulat atau dikasih kesempatan atau diajak tampil di Jogja Blues Explosion # 2, dimana saya bisa berinteraksi lebih dekat dengan sesama anggota komunitas jogja blues forum maupun komunitas komunitas yang datang dari luar kota jogja, serta para bluesman maupun blueswoman yang semuanya hebat hebat, juga para para musisi blues yang sudah me nasional bahkan yang sudah mendunia yang selama ini hanya bisa saya ketahui sosoknya melalui televisi dan jejaring sosial serta syahdan kabar yang terbang bersama sepoi sepoi angin sore yang kadang sejuk dan kadang tak sejuk. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih yang sedalam dalamnya, tulus dari dasar hati yang paling dalam.

Ada satu hal yang menurut saya menjadi sebuah poin penting sekaligus bisa dikatakan sebagai sebuah tantangan yaitu bagaimana mempertahankan kontinuitas acara ini, sehingga tahun depan bisa terselenggara lagi dengan konsep yang lebih menarik serta line up artist yang lebih banyak, sehingga blues di Jogja akan semakin berkembang. Tetapi baiklah itu disimpan terlebih dahulu, karena bagaimanapun menikmati euforia itu indah, rasanya seperti menghisap ganja satu linting full tanpa campuran tembakau.

Salut buat komunitas Jogja Blues Forum atas terselenggaranya Jogja Blues Explosion selama dua hari berturut turut di bawah gerimis yang romantis diseling hujan yang kadang agak kurang bersahabat, terimakasih sekali lagi buat teman teman panitia yang berjuang keras tanpa kenal lelah (meskipun saya yakin pasti lelah), anda semua layak berkalung kafiyeh seperti militan hammas dan fattah di palestina, karena anda anda juga adalah militan, sekali lagi terimakasih…

You’ll never walk alone, salam.

Road to Jogja blues explosion 2012

Gambar Posted on Updated on


Road to Jogja blues explosion 2012

22311_430374560350445_766427356_n542835_430374887017079_1814954087_n553735_430373257017242_956547717_n30350_430373180350583_797032928_n558860_430373117017256_1768389732_n

Road to Blues in the Art 2013, BMW Motorrad Days 2012 Wonosobo

Gambar Posted on Updated on


kami dari jogja blues forum bertandang ke wonosobo, bertemu dengan teman teman dari bandung yang tergabung dalam komunitas blues in the art. malam yang seru, jam session, sharing yang asik dan canggih 🙂

Road to Blues in the Art 2013, BMW Motorrad Days 2012 Wonosobo

 

61240_5000583340299_1694023191_n178956_5000570899988_1433593386_n579003_5000594340574_1268987794_n643905_5000594780585_725301024_n26636_5000583940314_586140547_n378475_5000595220596_1710513326_n215990_5000596100618_1140169091_n75904_5000596980640_1850321312_nJogja Blues Forum Jamming178956_5000570899988_1433593386_n

foto : Blues Libre dan Blues In The Art

Jogja Blues Explosion#2

Posted on Updated on


 

Crowd Jogja Explosion #2

319576_437647006289867_663306715_n9679_437647026289865_2130084493_n315786_437647019623199_1563911073_n