Artikel Blues

Gambar Posted on


play live with eric clapton

Iklan

Blues Refleksi Malam Pergantian Tahun di Gedung Indonesia Menggugat (Bandung)

Gambar Posted on Updated on


65035_512351135452025_118408019_n

Diskusi Bersama Para Sesepuh Blues Bandung

Photo : Ruang Putih Bandung

207629_512361948784277_103988602_n

talkin’ and singin’ 🙂

photo : Ruang Putih Bandung734701_512361968784275_97621622_n

Bernyanyi…

photo : Ruang Putih Bandung

379398_4016253813857_963649338_nBernyanyi…

photo : Ruang Putih Bandung

307280_4016123890609_957465679_nJam Session di sela sela diskusi bersama mr. Yudhi Kondoi

photo : Ruang Putih Bandung394845_512357262118079_907644161_n

Blues Menembus Batas Usia…

photo : Ruang Putih Bandung

me slideMe, Cigarette, Slide and Telecaster 🙂

photo : Mr. Anto Riswanto

suka suka saya

Posted on Updated on


saya rasa musik lain dengan agama…kenapa harus merasa berdosa jika kita melanggar ketetapan ketetapan di dalamnya? apakah saya akan masuk neraka jika saya memainkan blues dengan satu kalimat jawab setelah 15 kali kalimat tanya? kalau begitu saya lebih senang menamakan grunge pada apa yang saya mainkan…grunge itu merdeka. jika saya terdengar konyol dan menyedihkan menyanyikan blues dalam bahasa indonesia, maka saya akan belajar bahasa arab, ibrani dan samaria, untuk selanjutnya membuat lagu dengannya…jika untuk membunyikan gitar saya harus punya basis akademis yang mensyaratkan skill bermain bertahap dan terstruktur seperti dalam buku yang berisi susunan notasi yang memusingkan, mungkin saya akan lebih memilih mengendarai rx king dan menjadi pembalap jalanan sesuai cita cita saya semasa SMA…sekali lagi, musik bukan agama, ulama saja menggunakan ijtihad untuk perbedaan pandangan dalam agama yang notabene jauh lebih penting dari sekedar musik dan tetek bengeknya, kenapa saya harus pusing dengan musik yang “hanya” urusan dunia? semoga kumpulan bunyi bunyian itu tidak menggantikan takbir dalam hati saya…

 

#1

semalam saya bertemu arwah Robert Johnson di sebuah angkringan di sekitar terminal giwangan. saya lihat dia sedang sibuk makan tahu isi dan sate telur puyuh, di depannya terhidang segelas teh tawar. saya menghampirinya, asalamualaikum…saya sapa dia, waalaikumsalam jawabnya sambil mempersilahkan saya duduk. setelah berbasa basi sebentar saya bertanya begini kepadanya, mbah, apakah untuk me “rasai” blues saya harus sangat paham teori musik semacam kontrapung, tonalitas, harmoni manual de es be?. mendengar pertanyaan tersebut, dia tertawa sampai terbatuk batuk, hingga beberapa gumpalan tahu yang belum sempat ditelan beterbangan ke udara…setelah tertawanya berhenti dia berkata begini, untuk me “rasai” kita perlu mengalami…tentunya dengan pengalaman yang alami dan tidak dibuat buat, setelah mengalami kita akan belajar memahami…pengalaman kita berbeda, engkau tidak pernah mengalami kejamnya politik apartheid, jadi tak akan mungkin bisa memahami, kecuali dari buku buku, dan pengetahuan tanpa pengalaman itu belumlah sempurna…jadi, nyanyikanlah perasaanmu sendiri, dengan caramu, sesuai pemahamanmu, dengan bahasa yang paling baik menurutmu, maka itu insya Allah akan menjadi biru…lalu, bagaimana dengan teori teori yang saya sebutkan tadi mbah?, gampang, kumpulkan, masukkan dalam kantong plastik lalu bakar…setelah berkata begitu, seluruh tubuhnya diselimuti asap dan hilang…meninggalkan saya yang harus membayar semua makanan yang dia makan…

Sejarah Musik Blues Bersumber Dari Kreatifitas Seniman Islam – share

Posted on Updated on


Sejarah Musik Blues Bersumber Dari Kreatifitas Seniman Islam

Sumber dari:  http://www.undergroundtauhid.com/sejarah-musik-blues-bersumber-dari-kreatifitas-seniman-islam/

Maturnuwun Mas Pris Ardiraka atas share artikelnya beberapa hari yang lalu 🙂

Underground Tauhid – Blues dikenal sebagai sebuah aliran musik vokal dan instrumental yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Musik yang mulai berkembang pesat pada abad ke-19 M itu muncul dari musik-musik spiritual dan pujian yang biasa dilantunkan komunitas kulit hitam asal Afrika di AS. Musik yang menerapkan blue note dan pola call and respone itu diyakini publik AS dipopulerkan ‘Bapak Blues’ – WC Handy (1873-1958).

Percayakah Anda bahwa musik Blues berakar dari tradisi kaum Muslim? Awalnya, publik di negeri Paman Sam pun tak meyakininya. Namun, seorang penulis dan ilmuwan serta peneliti pada Schomburg Center for Research in Black Culture di New York, Sylviane Diouf, berhasil meyakinkan publik bahwa Blues memiliki relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika Barat.

Untuk membuktikan keterkaitan antara musik Blues Amerika dengan tradisi kaum Muslim, Diouf memutar dua rekaman. Yang pertama diperdengarkannya kepada publik yang hadir di sebuah ruangan Universitas Harvard itu adalah lantunan adzan – panggilan bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat. Setelah itu, Diouf memutar Levee Camp Holler.

Rekaman kedua itu adalah lagu Blues lawas yang pertama kali muncul di Delta Mississippi sekitar 100 tahun yang lalu. Levee Camp Holler bukanlah lagu blues yang terbilang biasa. Lagu itu diciptakan oleh komunita kulit hitam Muslim asal Afrika Barat yang bekerja di Amerika pasca-Perang Sipil.

Lirik lagu Levee Camp Holler yang diperdengarkan Diouf itu terdengar seperti panggilan suara adzan – berisi tentang keagungan Tuhan. Seperti halnya lantunan adzan, lagu Levee Camp Holler itu menekankan kata-kata yang terdengar bergetar. Menurut Diouf, langgam yang sengau antara lagu Blues Levee Camp Holler yang mirip adzan juga merupakan bukti adanya pertautan antara keduanya.

Publik yang hadir di ruangan itu pun takjub dengan kebenaran bukti yang diungkapkan Diouf. “Tepuk tangan pun bergemuruh, sebab hubungan antara musik Blues Amerika dengan tradisi Muslim jelas-jelas terbukti” papar Diouf. “Mereka berkata, ‘Wow, benar-benar terdengar sama. Blues ternyata benar berakar dari sana (tradisi Islam)‘.”

Jonathan Curiel dalam tulisannya bertajuk, Muslim Roots, US Blues, mengungkapkan bahwa publik Amerika perlu berterima kasih kepada umat Islam dari Afrika Barat yang tinggal di Amerika. Sekitar tahun 1600 hingga pertengahan 1800 M, banyak penduduk kulit hitam dari Afrika Barat yang dibawa paksa ke Amerika dan dijadikan budak.

Menurut para sejarawan, sekitar 30 persen budak dari Afrika Barat yang dipekerjakan secara paksa di Amerika itu adalah Muslim. “Meski oleh tuannya dipaksa untuk menganut Kristen, namun banyak budak dari Afrika itu tetap menjalankan agama Islam serta kebudayaan asalnya,” cetus Curiel.

Mereka tetap melantunkan ayat-ayat Alquran setiap hari. Namun, sejarah juga mencatat bahwa para pelaut Muslim dari Afrika Barat adalah yang pertama kali menemukan benua Amerika sebelum Columbus. “Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation.

Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya, They Came before Columbus, membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam African Presence in Early America, Van Sertima menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.

“Columbus juga tahu bahwa Muslim dari pantai barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.

Curiel menambahkan, pengaruh lainnya yang diberikan komunitas kulit hitam yang beragama Muslim di Amerika terhadap musik Blues adalah alat-alat musik yang bisa mereka mainkan. Pada era perbudakan di Amerika, orang kulit putih melarang mereka untuk menabuh drum, karena khawatir akan menumbuhkan semangat perlawanan para budak.

Namun, penggunaan alat musik gesek yang biasa dimainkan umat Islam dari Afrika masih diizinkan untuk dimainkan karena dianggap mirip biola. Guru Besar Ethnomusikologi dari Universitas Mainz, Jerman, bernama Prof Kubik menulis sebuah buku tentang relasi musik Blues dengan peradaban Islam di Afrika Barat berjudul, Africa and the Blues, yang diterbitkan University Press of Mississippi pada 1999. “Saya yakin banyak penyanyi Blues saat ini yang tak menyadari bahwa pola musik mereka meniru tradisi musik kaum Muslim di Arab,” cetusnya.

Secara akademis Prof Kubik telah membuktikannya. “Gaya vokal kebanyakan penyanyi Blues menggunakan melisma, intonasi bergelombang. Gaya vokal seperti itu merupakan peninggalan masyarakat di Afrika Barat yang telah melakukan kontak dengan dunia Islam sejak abad ke-7 dan 8 M,” paparnya. Melisma menggunakan banyak nada dalam satu suku kata.

Sedangkan, intonasi bergelombang merupakan rentetan yang beralih dari mayor ke skala minor dan kembali lagi. Hal itu sangat umum digunakan saat kaum Muslim melantunkan adzan dan membaca Alquran. Dengan fakta itu, papr Prof Kubik, para peneliti musik seharusnya mengakui bahwa Blues berakar dari tradisi Islam yang berkembang di Afrika Barat.

Meski telah dibuktikan secara akademis, namun masih banyak pula yang tak mengakui adanya pengaruh tradisi masyarakat Muslim Afrika dalam musik Blues. “Non-Muslim sangat sulit untuk meyakini fakta itu, karena mereka tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang peradaban Islam dan musik Islami,” ungkap Barry Danielian, seorang pemain teompet yang tampil bersama Paul Simon, Natalie Cole, dan Tower of Power.

Suara lantunan adzan dan ayat-ayat Alquran yang bisa dilantunkan para Muslim kulit hitam di Amerika mengandung musikalitas. “Dalam jamaah saya, kata Danielian yang tinggal di Jersey City, New Jersey, ‘Ketika kami berkumpul dan sang imam datang ada ratusan orang dan kami melantunkan doa, pasti terdengar sangat musikal. Anda akan mendengar musikal itu seperti orang Amerika menyebut Blues.’ ”

Begitulah tradisi Islam di AS telah melahirkan sebuah aliran musik bernama Blues.*/Fiqihislam.com

Red : Tre

sedikit mengenai Jogja Blues Explosion #2, why blues?

Posted on Updated on


531060_455896294456422_1036704340_n

Jogja Blues Explosion #2 selesai sudah. Sebuah acara yang sangat sukses menurut saya, bagaimana membuat blues menjadi sebuah konsumsi yang asik untuk masyarakat penikmat musik jaman sekarang yang sudah tersesat. Kalau dari sisi finansial saya kurang tahu, yang jelas acaranya ramai terlebih di hari ke dua.

Komunitas Jogja Blues Forum didukung Crab adventure dan watulawang resort sebagai penyelenggara acara ini patut dan sangat layak mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang tinggi, sebagai sebuah komunitas, Jogja Blues Forum berhasil menyelenggarakan sebuah pergelaran dua hari yang dahsyat dengan line up artist yang berasal dari dalam dan luar kota. Tidakklah mudah menyelenggarakan acara semacam ini, apalagi genre musik yang diangkat adalah blues, dimana kurang sekali pihak sponsor yang tertarik untuk ikut berpartisipasi karena mereka takut merugi. Meski demikian, acara besar ini pada akhirnya dapat terselenggara dengan predikat sukses. Sekali lagi jika dilihat dari sisi acaranya.

Saya sebagai anggota Komunitas Jogja Blues forum, meskipun saya tidak termasuk panitia dalam acara ini, mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada teman teman panitia yang sangat sangat militan dalam memperjuangkan terselenggaranya acara ini, juga untuk Crab adventure dan Watulawang resort sebagai official partner atau apalah istilahnya, semoga amal baik beliau beliau mendapat ganti yang lebih dahsyat dari Allah Azza wa Jalla.

Sebuah kehormatan yang sangat tinggi bagi saya, didaulat atau dikasih kesempatan atau diajak tampil di Jogja Blues Explosion # 2, dimana saya bisa berinteraksi lebih dekat dengan sesama anggota komunitas jogja blues forum maupun komunitas komunitas yang datang dari luar kota jogja, serta para bluesman maupun blueswoman yang semuanya hebat hebat, juga para para musisi blues yang sudah me nasional bahkan yang sudah mendunia yang selama ini hanya bisa saya ketahui sosoknya melalui televisi dan jejaring sosial serta syahdan kabar yang terbang bersama sepoi sepoi angin sore yang kadang sejuk dan kadang tak sejuk. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih yang sedalam dalamnya, tulus dari dasar hati yang paling dalam.

Ada satu hal yang menurut saya menjadi sebuah poin penting sekaligus bisa dikatakan sebagai sebuah tantangan yaitu bagaimana mempertahankan kontinuitas acara ini, sehingga tahun depan bisa terselenggara lagi dengan konsep yang lebih menarik serta line up artist yang lebih banyak, sehingga blues di Jogja akan semakin berkembang. Tetapi baiklah itu disimpan terlebih dahulu, karena bagaimanapun menikmati euforia itu indah, rasanya seperti menghisap ganja satu linting full tanpa campuran tembakau.

Salut buat komunitas Jogja Blues Forum atas terselenggaranya Jogja Blues Explosion selama dua hari berturut turut di bawah gerimis yang romantis diseling hujan yang kadang agak kurang bersahabat, terimakasih sekali lagi buat teman teman panitia yang berjuang keras tanpa kenal lelah (meskipun saya yakin pasti lelah), anda semua layak berkalung kafiyeh seperti militan hammas dan fattah di palestina, karena anda anda juga adalah militan, sekali lagi terimakasih…

You’ll never walk alone, salam.

Road to Jogja blues explosion 2012

Gambar Posted on Updated on


Road to Jogja blues explosion 2012

22311_430374560350445_766427356_n542835_430374887017079_1814954087_n553735_430373257017242_956547717_n30350_430373180350583_797032928_n558860_430373117017256_1768389732_n

Road to Blues in the Art 2013, BMW Motorrad Days 2012 Wonosobo

Gambar Posted on Updated on


kami dari jogja blues forum bertandang ke wonosobo, bertemu dengan teman teman dari bandung yang tergabung dalam komunitas blues in the art. malam yang seru, jam session, sharing yang asik dan canggih 🙂

Road to Blues in the Art 2013, BMW Motorrad Days 2012 Wonosobo

 

61240_5000583340299_1694023191_n178956_5000570899988_1433593386_n579003_5000594340574_1268987794_n643905_5000594780585_725301024_n26636_5000583940314_586140547_n378475_5000595220596_1710513326_n215990_5000596100618_1140169091_n75904_5000596980640_1850321312_nJogja Blues Forum Jamming178956_5000570899988_1433593386_n

foto : Blues Libre dan Blues In The Art

How blue can you get

Posted on Updated on


Seandainya saja takdir tidak pernah digariskan, dan suratan itu tak pernah ada, serta kita diberi kebebasan memilih hidup, maka saya akan memilih jadi, tentu saja orang kaya. Enak jadi orang kaya, bisa semau maunya nggak ada yang protes, soalnya kaya. Kalau saya kaya, saya mau beli Hummer, itu untuk status betapa saya kaya, lalu Wrangler tiga kabin buat mengajak istri saya piknik saat akhir pekan tiba, lalu Mini Chooper dan chevrolet camaro edisi bumblebee buat mainan anak saya biar anak saya nggak kalah sama, itu loh, host acara tivi yang badannya gede tapi kapasitas otaknya sekelas otak bayi. oia satu lagi, agar saya bisa gila gilaan di jalanan saya juga mau beli satu Audi TT cabriolet warna ungu, dan tentunya satu SS Camaro dan Impala untuk menegaskan betapa saya punya selera yang sangat Amerika. Jantan tentunya.

Berhubung saya suka main gitar, tentunya saya juga akan menjadi kolektor gitar dengan merk aneh-aneh, keluaran jaman prasejarah, relic dan kalau bisa bekas artis. Untuk keperluan itu saya akan menyediakan satu rumah khusus buat koleksi gitar-gitar saya yang juga akan saya jadikan museum biar orang terlongong longong sambil berurai liur saat melihat betapa dahsyatnya koleksi saya.

tapi itu seandainya…

Nah…sekali lagi seandainya hidup saya seperti yang saya omongkan di atas, tentunya saya tidak akan pernah menyanyikan blues blues yang kalau dicium, baunya saja sudah seperti gembel, seperti yang sering saya nyanyikan sekarang ini. Betapa tidak, bagaimana saya akan meresapi sesuatu yang disebut sebut sebagai sendu kalau saya senang sentosa dan bahagia tiada tara dengan jaminan harta 12 keturunan pun masih bersisa? Kalau seperti itu mungkin saya akan memainkan musik lain yang lebih mempertegas kelas saya, misalnya seperti musik dengan jibunan tangga nada kromatis yang pemainnya suka sambil merem merem dan mengerutkan dahi seolah pekerjaannya adalah hal tersulit di dunia…lalu anak saya akan saya panggilkan guru piano atau biola biar mereka belajar musik dari jaman lampau yang memiliki attitude sangat sangat eksklusif dan pakemnya haram dilanggar seolah itu adalah agama.

Saya bukannya tidak bersyukur, saya hanya sedang meratap…kata istri saya blues itu adalah menyenandungkan ratapan atau menyanyikan keluhan. Dan memang begitu, coba anda dengar lagu walkin’ blues, woke up this mornin’ i feel round for my shoes, you know bout that babe, i had them old walkin blues…dan sebagainya dan sebagainya. Lalu bagaimana saya mengeluh kalau tidak ada yang saya keluhkan? misalkan hidup saya seperti yang saya katakan di atas? Yang ada hanyalah saya sedang berpura pura. Penyakit orang sehat yang pura pura sakit adalah mereka kemudian mencari cari masalah yang tidak perlu, merasa rasai hidup sebagai sesuatu yang tak berguna, lalu tenggelam dalam apa yang mereka sebut sebagai pencarian jatidiri dan berujung pada keinginan mati muda, mau ikut ikutan seperti seniman 27 club. Itu adalah mimpi klasik anak alay jaman sekarang. Coba dikasih Tuhan mati betulan, pasti mereka merengek kepingin hidup lagi.

Saya tidak sedang membanggakan kemelaratan, sudah saya bilang kalau takdir tidak pernah digariskan, saya tentu saja memilih untuk  jadi semacam orang yang ikut mencatatkan nama di majalah forbes.

Setiap orang sah melakukan apa yang dia mau, tapi saya paling pusing dengan yang pura pura. Pura pura sakit padahal sehat wal afiat, padahal orang sakit pun kalau bisa ingin cepat sehat.

Saya tidak sedang memprotes Tuhan, saya tahu bahwa blues itu sangat religius, buktinya orang orang kulit hitam yang menyanyikan blues itu sering menyebut kata Lord di dalam lagunya, mereka berdoa, mengeluhkan nasib, kecuali orang orang kulit hitam amerika jaman sekarang yang bling bling…mereka atheis dan hiperseks. Mereka juga freemason dan menghamba pada iluminati.

Saya suka menyanyikan keluhan, tapi sejujurnya saya lebih suka berdoa karena menyanyikan keluhan tidak membuat saya dan keluarga saya kenyang. Saya sudah capek menulis, saya tahu tak ada kesimpulan dari apa yang saya omongkan dari awal sampai akhir, tapi saya tidak perduli, saya bukan jurnalis apalagi penyair, saya tidak sedang menulis analisa analisa maupun teori teori, saya hanya sedang ingin menuliskan keluhan dan sedikit muntah muntah…so, i don’t give a shit.

semoga ada gunanya

salam

i’m a bluesman

Posted on Updated on


blues adalah soal perasaan. itu menurut saya. senandung dan nyanyian mestinya bukanlah tanpa sebab, dia ada karena satu dan lain hal yang mendasarinya. paling enak menyanyikan kesedihan, semacam berkeluhkesah tetapi disenandungkan, dia akan mengiba iba, menaik dan turun sesuai perasaan hati.

saya tahu, ada aturan tertentu di dalam blues, aturan yang mengatur soal akord, birama, sukat serta dinamika agar kesatuan nada yang dibunyikan bisa harmonis dan membentuk sebuah harmoni yang bernama blues itu sendiri. lalu muncullah analisa analisa, jika yang suka bergaya sekian bar adalah si anu, yang suka menggunakan setelan sound yang demikian adalah si itu, dan sebagainya dan sebagainya. tapi apakah si anu dan si itu sudah sedemikian detil mengkonsep segala sesuatu mengenai permainannya sejak awal? saya pikir tidak begitu, itu adalah pekerjaan para musikolog dan Muddy Waters pun nampaknya akan enggan menjawab jika kita tanyakan kepadanya kenapa model kalimat tanya dan jawab pada lagu champagne and reefer sangat tidak konvensional untuk jenis musik blues?

blues itu merdeka.

secara umum, segala jenis musik memang punya aturan aturan yang bersifat matematis, tentunya bukan tanpa maksud semuanya, diharap kesatuan bunyi yang dihasilkan akan lebih indah menurut konvensi harmoni jika aturan matematis tersebut diikuti. meski begitu, musik bukanlah matematika.

kembali ke soal perasaan, menurut saya hal terpenting dalam musik blues adalah soal rasa itu sendiri. dan itu erat kaitannya dengan pengalaman serta peng alam an pelaku musik itu sendiri. itulah intinya menurut saya, bukan apa jenis efek yang digunakan oleh Stevie Ray Vaughan di lagu Texas Flood, atau kenapa Jimi Hendrik selalu meringis dan memejamkan mata saat dia melakukan bending dan sebagainya. itu tentunya tidak penting untuk kita ketahui kecuali kita akan membuat semacam film dokumenter tentang mereka.

lalu bagaimana kepekaan rasa kita dapat terasah? itu persoalannya, kata seorang teman kita harus mengalami untuk bisa meresapi. saya pikir betul apa yang dia katakan, mungkin kita harus menderita agar bisa meresapi penderitaan untuk kemudian menyanyikannya, tapi itu mungkin loh, karena terlalu ekstrim tentunya kalau sampai kita rela membuang kebahagiaan hanya demi sebuah musik blues. tetapi sebuah pesan yang, meskipun sederhana, itu akan bagus sekali jika ada dalam sebuah lagu, terlebih blues. agar kita tidak terjebak dalam iklim hippie yang sudah bukan jamannya lagi, serta kebiasaan mengada adakan masalah padahal tak bermasalah, bergaya menderita padahal bahagia, pura pura sakit padahal sehat.  semoga bermanfaat.

salam

Blues dan Saya

Posted on


Perkenalkan, nama saya Herry Firmansyah. Saya memainkan gitar dengan slide besi di kelingking. Saya menulis lagu mengenai apa apa yang saya rasakan karena saya paling tidak suka dengan sesuatu yang dibuat buat. Saya memainkan musik blues dari jaman lampau. Saya menafsirkan blues sebagai sebuah bunyi bunyian, gumaman yang bebas dan merdeka. Blues haruslah menyampaikan sesuatu kepada yang mendengar, jikalau tak ada pesan di dalamnya, minimal dia bercerita. Saya memiliki interpretasi yang sedikit berbeda dengan orang orang lain mengenai blues, mungkin. Saya samasekali tidak perduli dengan penghitungan birama, urusan sound dan segala tetek bengeknya yang memusingkan, juga segala hal teknis yang menurut orang harus begini dan begitu. Saya hanya mau menyanyi dan memainkan gitar, itu saja.

Gitar yang saya pakai adalah sebuah telecaster tua bukan fender yang saya beli dari seorang teman dengan harga yang tak begitu mahal untuk ukuran harga sebuah gitar. Saya suka bunyinya yang bisa seperti besi. Dan saat orang orang mempermak gitarnya dengan part part tertentu agar bunyinya bisa seperti si anu, agar soundnya terdengar seperti si itu, maka saya hanya akan mengelap gitar saya agar terlihat lebih mengkilap dan sedikit meminyaki senarnya agar tidak karatan. Sekali lagi saya tidak perduli dengan “kebenaran” standar dan konvensional bahwa blues adalah begini, tekniknya begitu dan yang paling cocok adalah memakai gitar merk anu.

Oh ya…ada yang belum saya ceritakan, saya adalah seorang suami dari seorang perempuan hebat dan juga bapak dari dua orang anak yang lucu lucu. Dan saya sangat senang dengan semua itu 🙂

Salam